Dulu Nasi Garam, Kini Buah dan Susu Hadir dalam Seporsi MBG
- Redaksi
- Jumat, 06 Maret 2026 16:28
- 72 Lihat
- Nasional
Ogan Komering Ilir, Media Budaya Indonesia. Com - Di rumah panggung kecil di tepi rawa kawasan Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Merianti membesarkan dua anaknya yang masing-masing berusia enam tahun dan empat tahun di tengah segala keterbatasan. Ada masa ketika makanan yang bisa ia sajikan untuk mereka hanyalah nasi dengan garam.
Ketika ditanya bagaimana kondisi makan anak-anaknya sebelum mengenal program Makan Bergizi Gratis (MBG), Merianti menjawab dengan suara pelan.
“Nasi dengan garam, Pak. Kadang-kadang mau ada duit bapaknya boleh duit. Ibaratnya lembur bolehlah duit, kadang 50 ya, kadang beli sayur, beli tempe tahu, baru makan. Iya, minyak,” ujarnya sambil menahan tangis saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/3).
Merianti hidup bersama suami dan dua anaknya dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas. Suaminya bekerja serabutan. Kadang menjadi buruh bangunan, kadang bekerja di kebun sawit, kadang mencari ikan di sungai pada malam hari. Sesekali ia juga membantu menggarap sawah orang lain.
Penghasilan yang diperoleh tidak menentu. Yang penting bagi keluarga ini adalah punya beras untuk dimasak. Jika ada uang lebih, barulah bisa membeli sayur atau tempe dan tahu sebagai lauk. Untuk membantu kebutuhan sehari-hari, Merianti juga sesekali bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya.
Rumah yang mereka tempati pun jauh dari kata layak. Bangunan rumah panggung berukuran sekitar 4 x 4 meter itu berdinding papan dengan atap rumbia yang sudah bolong di beberapa bagian, terutama di sisi utara. Saat hujan turun, air dengan mudah menetes dari celah-celah atap.
“Kalau hujan tuh, Pak, kami nyelip ke sana,” kata Merianti sambil menunjuk ke arah dekat beranda. “Jadi asal hujan reda baru kami tidur.”
Di dalam rumah kecil itu tidak ada sekat kamar maupun dapur. Sebuah kompor gas diletakkan di pojok ruangan, berdampingan dengan jerigen besar untuk menyimpan air minum. Di sudut lain ruangan, teronggok gulungan kasur kusam yang menjadi tempat tidur keluarga tersebut.
Gubuk sederhana itu berdiri di pinggir rawa. Untuk mandi dan mencuci, Merianti memanfaatkan endapan air rawa yang berada di samping rumahnya.
Di tengah kondisi hidup yang serba terbatas itu, Merianti juga harus merawat dua anak yang sering sakit-sakitan.
Namun kondisi tersebut mulai berubah ketika keluarganya menerima manfaat program MBG melalui posyandu. Menurut Merianti, makanan yang dibagikan melalui program itu membuat anak-anaknya bisa menikmati makanan yang sebelumnya jarang mereka dapatkan.
“Sejak dapat MBG ni, Pak, ibaratnya tuh kadang anak nggak bisa makan buah, ibaratnya nggak bisa makan susu tuh bisa makan susu lah, bisa makan buah, bisa makan bolu,” ungkapnya.
Ia juga merasakan perubahan pada kondisi kesehatan anak-anaknya. “Iya, ada perkembangan, Pak. Iyalah ibaratnya tuh lancar, ibaratnya tuh badannya ini kan sehat,” urainya. “Selama punya MBG nih ya pintar lah, Pak. Aktif yang ini aktif, ini aktif,” imbuh Merianti sambil menunjuk ke dua anaknya yg berada di pangkuannya..
Meski sempat berhenti mengambil MBG selama hampir dua bulan karena banjir dan harus mengungsi ke rumah orang tuanya di Celika, Merianti kembali rutin mengambil makanan dari posyandu sejak Januari. Ia mengatakan, berat badan anak-anaknya sempat kembali menurun selama sekitar dua bulan tidak mengambil MBG dari Posyandu Teratai 2.
Kini ia kembali mengambil MBG agar anak-anaknya tetap mendapatkan asupan makanan yang lebih baik.
“Cuman kami ini merasa bersyukur lah, Pak. Walaupun dikit banyaknya kami terima, ya bersyukur. Kami nak dapat MBG ini kan makasih banyak. Kadang dari Perigi dipindah ke Kayu Agung. Mak itu nah tapi nggak susah lagi berjalan, mak itu nak kepanasan,” katanya.
Sebelumnya, kedua anak Merianti terdaftar di Posyandu Perigi sehingga ia harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga satu jam untuk mengambil MBG dari rumahnya. Sejak September lalu, penerima manfaat MBG dialihkan ke Posyandu Teratai 2 di Lebak Permai.
Di rumah kecil di tepi rawa itu, bantuan makanan sederhana telah menghadirkan perubahan kecil, namun sangat berarti, bagi kehidupan Merianti dan anak-anaknya.