Peluk Dubes Palestina, Prabowo Tak Kuasa Tahan Air Mata di Hadapan Ribuan Santri Gontor
- Redaksi
- Sabtu, 19 September 2026 22:27
- 20 Lihat
- Nasional
Ponorogo, Suasana Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9), berubah haru saat Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyapa Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari.
Presiden Prabowo, di hadapan ribuan santri, terlihat tak kuasa menahan air mata setelah berpelukan dengan Dubes Palestina.
Presiden bahkan sempat mengusap air matanya menggunakan handuk putih yang biasa dibawanya setiap kali berpidato.
Momen tersebut terjadi ketika Prabowo menyapa satu per satu duta besar yang hadir dalam acara Kesyukuran 100 Tahun Gontor.
Saat tiba giliran menyebut Duta Besar Palestina, Prabowo langsung meneriakkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
“Free Palestine, Free Palestine, Free Palestine,” pekik Prabowo yang disambut para alumni, santri, serta tamu undangan yang hadir.
Dubes Palestina, Abdulfattah, kemudian mengangkat sebuah sorban untuk diserahkan kepada Presiden. Prabowo memberi isyarat agar Dubes Palestina naik ke atas panggung.
Setelah menerima sorban tersebut, Prabowo mengenakannya di bahu. Keduanya kemudian berpelukan di hadapan para hadirin.
Usai momen itu, Prabowo kembali menuju podium untuk melanjutkan pidatonya. Namun, suaranya terdengar berubah seperti menahan tangis. Ia mengaku teringat penderitaan masyarakat Palestina yang hingga kini terus menghadapi serangan.
“Saya minta maaf. Tadi saya teringat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus. Dan kita seolah kurang berdaya untuk membantu mereka,” kata Prabowo.
Prabowo kemudian mengaitkan penderitaan rakyat Palestina dengan pentingnya membangun kekuatan bangsa. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi dorongan bagi masyarakat Indonesia, terutama para ulama, kiai, pendidik, dan generasi muda, untuk belajar dan bekerja sungguh-sungguh membangun negara.
“Saya kira ini justru yang mendorong kita semua, apalagi saudara-saudara, apalagi para kiai, apalagi para ulama, apalagi para pendidik di institusi-institusi seperti Gontor ini. Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak. Kehendak untuk belajar sungguh-sungguh. Kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat,” ujarnya.
Prabowo menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara menjadi hal penting agar bangsa tersebut mampu berdiri tegak dan tidak mudah mendapatkan tekanan dari negara lain.
“Karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain,” tegasnya.